Sabtu, 13 Februari 2016

Filosofi Musyawarah kental dalam Mbed-bedan di Semate

mbed mbedan

Tradisi mbed-bedan di Desa Adat Semata ,Abianbase , Mengwi, Badung (Bali), dilakukan warganya sudah ada sejak lama , pernah dikatakan warga upacara ini sempat tidak diadakan selama 40 tahun dan kembali digelar lagi tradisi ini karena disebutkan dalam babad Raja Purana Desa Adat Semate. Dalam Raja Purana dikisahkan , Rsi Mpu Bantas melakukan perjalanan suci ke sebuah hutan yang ditumbuhi kayu putih. Di situ beliau bertemu dengan sanak keturunan Mpu Gnijaya. Beliau sempat bertanya kepada warga, kenapa berada diwilayah hutan ini, karena hutan ini angker, Rsi Mpu Bantas menyarankan warga membuat tempat pemujaan agar selamat. Warga mengadakan musyawarah untuk memberikan nama pura tersebut, tetapi sulit mencari titik temu ; tarik ulur pendapat dan lama menemukan kesepakatan. Rsi Mpu Bantas memberikan nama Kahyangan tersebut Putih Semate , karena wilayah ini ditumbuhi kayu putih dan wilayah itu dinamakan Semate karena warga telah bersatu dalam pikiran dan berketetapan tinggal di wilayah ini sampai akhir hayat. Setelah itu pura desa itu dibuatkan upacara pada Tahun Saka 1396 (1474 M).Rsi Mpu menyampaikan Bhisama " Hai anak anakku sekalian, Karena kalian dalam mengadakan musyawarah terjadi pembicaraan tarik ulur dalam mengambil suatu keputusan , sebagai tanda peringatan , wajib kalian melakukan upacara Mbed-bedan setiap tahun yaitu pada sasih kadasa tanggal pisan (sehari setelah Nyepi) mohon keselematan dan anugrah Tuhan /Hyang Batara dengan mengaturkan upakara daksina suci pada pura yang menjadi sungsungan kalian lengkap dengan segehan. Demikian harus diingat , jangan sampai dilupakan". Berdasarkan Bhisama itulah warga melaksanakan Mbed bedan.

Persiapan warga sebelum melakukan tradisi ini , warga Desa Adat Semate menuju Pura Puseh melakukan persembahyangan bersama. Masing masing krama membawa sarana upakara berupa tipat bantal , dipersembahkan kepada Ida Batara, sebagai wujud syukur telah dianugrahkan kerahayuan . Selanjutnya , krama desa menuju depan Pura Puseh menggelar tradisi Mbed bedan , tradisi ini mirip olahraga tarik tambang. Namun, tali yang digunakan menggunakan batang pohon menjalar, yang oleh masyarakat  Semate disebut Bun Kalot yang diambil di wilayah kuburan Desa Semate. Dalam pelaksanaan tradisi ini peserta lak-laki berhadapan dengan lawan laki-laki , sedangkan peserta perempuan berhadapan dengan lawan perempuan. Mula mula tali dari bun kalot itu dipegang masing-masing lawan dengan jumlah peserta dan kekuatan yang sama. Setelah aba aba dimulai , masing masing peserta menunjukkan kekuatannya, ada krama yang bertugas menggelitik tubuh peserta. Peserta yang tidaka tahan gelitikan, tentu akan melepas pegangannya, sehingga kekuatannya menjadi lemah. Permainan ini dinyatakan selesai manakala peserta berhasil menarik Bun yang dipegang lawan.

Begitulah seterusnya , hingga semua peserta mendapat kesempatan tampil . Sorak sorai gembira terasa ketika peserta mampu menarik lawan dengan gigihnya. Peserta selalu tampil bersemangat tiap kali tradisi ini digelar. Setelah Mbed-mbedan selesai , krama kemudian berkumpul , menikmati lungsuran tipat bantal bersama-sama. Suasana kekeluargaan dan kebersamaan betul-betul tampak dalam upacara atau tradisi itu. Boleh dikatakan , krama Desa Adat Semate membuka lembaran hari pertama pasca Nyepi  Tahun Baru saka (Ngembak Geni) dengan spirit kebersamaan. Diawali dengan persembahyang bersama, terlibat  dalam pelaksanaan tradisi atau upacara warisan leluhur secara bersama-sama , kemudian menikmati lungsuran paican Ida Batara secara bersama pula.












Sabtu, 30 Januari 2016

Filosofi Tri Hita Karana dalamTradisi "Nimpung" di Nusa Penida

Tradisi Nimpung Nusa Penida
Nimpung menurut tetua adat setempat disebutkan memiliki arti secara harfiah yaitu berasal dari kata nimpung yang berarti menghantam dengan saling melempar. Pelaksanaan tradisi ini sebagai lanjutan dari upakara Don Kayu Samah di desa setempat , yang bermakna syukur terhadap tumbuh-tumbuhan , setelah berbuah dengan baik. Dia menegaskan , tradisi ini berlangsung tidak tentu. Biasanya pelaksanaannya baru digelar warga setelah musim panen tiba. "Jadi tidak setiap tahun dilaksanakan".

Aktualisasi Tri Hita Karana dalam salah satu tradisi yang hingga kini dilestarikan oleh masyarakat Nusa Penida, Klungkung. Tradisi itu bernama Nimpung yang merupakan wujud rasa syukur masyarakat terhadap karunia Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Tradisi setiap musim panen tiba ini berlangsung di Desa Pekraman Semaya , Kecamatan Nusa Penida, Klungkung. Tepatnya pada Anggara Kasih Tambir. Saat itu warga setempat berkumpul di Balai Banjar Semaya dengan menggunakan pakaian adat. Sebelumnya, warga setempat menghaturkan hasil bumi mereka yang telah dirangkai menjadi banten pajegan di sebuah palinggih Padmasana di simpang empat desa setempat. setelah usai sembahyang bersama, Sorak sorai sambil melemparkan Jajan, buah-buahan, ikan bakar dan tidak terkecuali ayam panggang ke warga desa yang lain.

Saling tantang pun terjadi, tawar menawar untuk melempar dan dilempari makanan. Ada senang dilempar ketika makanan yang dilemparkan lezat , mengenai  tubuh tidak terlalu sakit seperti ayam bakar.  Tidak sedikit pula ada mengaduh kesakitan saat yang dilempar dengan kencang, terlebih yang dilempar apel dan  salak. Suara tawa pun memecah ditengah keramaian nimpung yang unik. Apabila tradisi  nimpung dilestarikan,  tentunya  menjadi atraksi wisata unik di Nusa Penida, seperti  perang ketupat di Kapal.

Disisi lain pengelingsir desa yang berperan memberikan aba aba dimulai tradisi ini pun menyiapkan diri berbekal sound system .Suasana semakin ramai dan penuh suka cita setelah diberikan aba tandanya mulai oleh pengelingsir desa. Warga mulai mengambil aneka buah, jajan , hingga ayam panggang dan bagian banten pajegan lainnya. Semua itu digunakan warga untuk saling lempar. Seolah -olah larut dalam kesenangan, tidak ada yang merasa kesakitan , atau sampai memiliki rasa dendam ketika kena lemparan. Tradisi Nimpung seolah-olah membuat warga melupakan sejenak ketika mengalami kesulitan pangan saat musim kemarau dan berbagai persoalan lainnya sebagai masyarakat di wilayah kepulauan. Tradisi ini tergolong unik, cara bersyukur yang terbalut dalam tradisi Nimpung ini juga masih lestari sejak dulu hingga kini.

Apabila tradisi Nimpung terus dilestarikan , tentu ini menjadi atraksi wisata unik di Nusa Penida. Seperti halnya tradisi Siat Sampaian di Gianyar dan Kintamani , Bangli. Perang makanan itu berlangsung lebih dari satu jam. Di akhir tradisi , semua mendapatkan makanan, buah dan jajan milik peserta Nimpung Lainnya, dan itu disantap bersama. Tradisi Nimpung merupakan aktualisasi pelaksanaan Tri Hita Karana di desanya. Di mana, unsur parahyangan tampak ketika masyarakat berupaya menyelaraskan hubungan dengan Ida Sanghyan Widi Wasa melalui persembahyangan bersama sebagai wujud syukur atas karunia Beliau yang melimpah hasil pertanian dan peternakan. Unsur Pawongan yang merupakan hubungan harmonis antara manusia dengan sesama, tampak ketika masyarakat saling akrab bergembira dalam tradisi nimpung tersebut. Menjaga hubungan harmonis alam (palemahan) dilakukan melaui pelestarian sarwa prana prani atau semua unsur tumbuh-tumbuhan dan binatang hasil pertanian dan peternakan warga. Hasilnya digunakan warga untuk persembahan sebagai wujud rasa syukur.



Minggu, 17 Januari 2016

PEMERINTAHAN HINDU

pemerintahan hindu dharma
Pengelolaan pemerintahan menurut agama Hindu.
Pemimpin Pemerintahan.
Dandaniti dharma atau pengelolaan pemerintahan mempersyaratkan adanya seorang pemimpin yang sempurna. Lalu, siapakah pemimpin sempurna itu?, teks -teks kesusasteraan Hindu menyebut seorang pemimpin hendaklah seorang yang disebut "rajarsi". Sebagai puncak pengelola pemerintahan, seorang "rajarsi" memegang kekuasaan mutlak . Puncak pimpinan pemerintahan haruslah bijaksana adn virtous. Menurut Artha sastra, seorang pemimpin yang disebut rajarsi ialah orang yang memiliki ciri sebagai berikut: 
1.Memiliki kontrol diri, mampu menolak godaan yang datangnya dari indria duniawi;
2.Memupuk kecerdasan intelektual dan mengadakan asosiasi dengan orang yang lebih tua (pengelingsir senior);
3.Senantiasa membuat mata terjaga melalui intelejen (mata-mata , spies).
4.Selalu aktif mempromosikan keamanan dan kesejahteraan masyarakat. (welfafe of the people),
5.Memastikan ketaatan masyarakat terhadap ajaran dharma melalui penegakan aturan dan memberikan contoh,
6.Senantiasa mengupayakan disiplin diri dengan mempelajari berbagai cabang ilmu pengetahuan,
7.Mengabdikan diri kepada masyarakat dengan niat sungguh-sungguh mensejahterakan masyarakat.

Di Samping itu, sebagai seorang pemimpin yang senantiasa menjadi panutan masyarakat, maka harus pula :
1. Menjauhkan diri dari keinginan untuk memiliki istri banyak;
2. Tidak mempunyai keinginan untuk memiliki kekayaan banyak.
3. Mempraktekkan ajaran ahimsa dengan benar.
4. Menghindarkan diri dari impian semu (khayalan) setiap hari, ketidakteraturan, upaya berdusta , dan melakukan pemborosan , dan
5. Menghindari hubungan dengan orang-orang yang berbahaya  dan terlibat dalam kegiatan yang berbahaya.
Dalam ajaran agama Hindu bahwa artha (dalam arti ekonomi) sangat penting. Dharma dan karma keduanya masing-masing berdiri sendiri secara bebas.Seorang Rajarsi harus selalu respek kepada pendeta kerajaan (penasehat agama) dan birokrat yang senantiasa memperingatkannya agar membuat keputusan-keputusan yang tepat, tidak menyalahi aturan agama dan pemerintahan yang berlaku.
Bila seorang pemimpin (yang bersifat Rajarsi) selalu enerjik, maka akan orang -orang yang dipimpinnya juga akan enerjik.Sebaliknya bila melempem(dan tampak malas penampilannya saat melakukan tugas), maka orang-orang yang dipimpinnya juga akan melempem dan berbuat malas. Seorang pemimpin Rajarsi, harus senantiasa aktif dalam manajemen ekonomi. Akar dari tiadanya kesejahteraan (ekonomi) ialah tiadanya aktivitas dan pemberian penekanan terhadap aktivitas material. Dengan tiadanya (buah kegiatan ekonomi) berupa aktivitas ekonomi, akibatnya, baik kemakmuran yang dinikmati saat ini maupun pertumbuhan ekonomi di masa depan akan hancur.

Tentang kepemimpinan banyak sekali tersebar dalam berbagai kitab suci dan susastra Hindu. Kitab Atharwa Veda : 3.4.1 , misalnya menjelaskan tentang kepemimpinan Hindu dalam sloka 3.4.1 : 
" Wahai pemimpin negara , datanglah dengan cahaya, lindungilah rakyat dengan penuh kehormatan , hadirlah sebagai pemimpin yang utama, seluruh penjuru memanggil  dan memohon perlindunganmu, raihlah kehormatan dan pujian dalam negara ini."

Sloka di atas , menunjukkan doktrin pemimpin yang harus mampu sebagai pelindung rakyat. Selain itu, pemimpin harus pula memperhatikan kesejahteraan masyarakat secara sungguh-sungguh. Sloka Atharva Veda menyatakan :
"Bilamana seorang pemimpin dalam sebuah negara selalu mengikuti kebenaran dan dharma, serta mencukupi kebutuhan rakyatnya, maka semua orang bijaksana dan tokoh masyarakat akan mengikuti dan menyebarkan dharma kepada masyarakat luas".

Nitisastra sloka 1.11 menyuratkan pula secara simbolik penggambaran hubungan yang erat antara seorang pemimpin dengan rakyatnya. Sloka tersebut berbunyi sebagai berikut :
"Orang tidak boleh tanpa Asraya(tempat mohon bantuan) namun usahakanlah Mahasraya. Lihatlah itu si ular naga yang mencari tempat berlindung pada Bhatara Siwa karena Baktinya ia dijadikan kalung oleh Bhatara Siwa. ketika burung Garuda datang (musuh ular) terpaksa ular itu dihormati pula."
Jelaslah sloka tersebut menunjukkan betapa kehormatan seorang pemimpin berkorelasi erat dengan rakyatnya. Kehormatan seorang pemimpin ialah kehormatan bagi masyarakatnya sendiri. Kebesaran seorang pemimpin, kebesaran pula bagi rakyatnya.

Konsepsi Asta Brata berwujud dalam diri manusia (pemimpin) sebagai delapan Dewa, yaitu  Hyang Indra, Yama, Surya, Candra, Bayu, Kuwera, Baruna, Agni, yang bersemayam sebagai sifat yang dimiliki. Kedelapan sifat itu harus dieksploitasi secara maksimal dalam rangka memimpin masyarakat menuju kesejahteraan yang kekal dan abadi. Itulah sebabnya kedelapan dewa yang bersemayam itu disebut Asta Brata karena harus diniatkan atau diwujudkan dalam tindakan dan perilaku.

INSTRUMEN PENGELOLAAN PEMERINTAHAN.
Dandaniti dharma mencakup empat hal penting yang merupakan tujuan fundamental dalam upaya membangun kesejahteraan rakyat. Terdiri dari :
1.Alabha Labhartah, yaitu menggali pendapatan negara dari apa yang belum didapat. Rajarsi bersama instrumen pengelolaan pemerintahannya berupaya secara inovatif melakukan diversifikasi untuk membuka peluang pendapatan agar selalu lebih besar dari sebelumnya.
2.Labdha Parikhsana, yaitu sistem pengelolaan pemerintahan haruslah mampu menjaga apa yang sudah didapat agar tidak berkurang dan tetap utuh. Akuntabilitas pengelolaan kekayaan negara diupayakan dengan sempurna agar kekayaan negara yang telah didapat tidak berkurang.
3.Rakhsita vivardhani, yaitu pendapatan negara yang telah didapat dijaga ketat agar tidak berkurang dan dikembangkan agar senantiasa bertambah banyak. Jadi investasi dan diinvestasi sumber daya yang dimiliki oleh negara.
4.Vridahasya tirtheshu pratipadani,yaitu apa yang diperoleh dari hasil pengembangan kekayaan negara patut dibagikan kepada yang berhak menerima (sesuai dengan tugas dan tanggungjawabnya).

keempat hal penting tersebut dalam dadaniti dharma berkaitan langsung denga artha yang merupakan tivarga, yaitu dharma, artha, dan kama. Artha tidak hanya dipergunakan untuk memenuhi kama (pemenuhan kebutuhan duniawi), juga dipergunakan untuk pemenuhan dharma. Terpenuhinya kama merefleksikan pemenuhan kesejahteraan masyarakat dalam kehidupan nyata dan pemenuhan dharma merupakan pemenuhan kesejahteraan masyarakat untuk mengeksrpresikan religiusitasnya. Ketiga pilar itu (trivarga) dalam sistem teologi Hindu bermuara pada tujuan hidup manusia Hindu, yaitu mokhsa (pembebasan abadi), ketiganya bertujuan untuk memberikan ruang yang nyata bagi tercapainya tujuan hidup sebagai gaya hidup yang diberkati.Disini terefleksi adanya upaya aktif secara kolektif untuk mencapai tujuan hidup manusia Hindu. Tidak saja dapat dilakukan dengan cara kontemplasi keras melalui jalan jnana marga saja. Namun dapat dilakukan secara bersama-sama melalui tata kehidupan bermasyarakat yang terkoordinatif dalam sistem bernegara.

Selain empat hal tersebut diatas, ada dua hal yang penting dalam sistem pengelolaan pemerintahan atau dandaniti dharma, yaitu :
1.Rakshita vivardhini, yaitu pengusahaan sumber sumber daya alam dalam pengembangan pendapatan rasional negara.
2.Vriddhasya tirtheshu pratipadani, yaitu kaitannya tata kelola pemerintahan dengan sistem politik.
Melalui keenam hal fundamental tersebut, tampaklah konsepsi dandaniti dharma bahwa kekayaan negara (artha) dalam lingkaran trivarga(dharma, artha, kama) yang menjadi tujuan. Ketiganya merupakan refleksi pemenuhan kebutuhan hidup sehat dan sejahtera. Secara implisit tersirat bahwa upaya yang dilakukan oleh seorang Rajarsi dalam dandaniti dharma ialah menjamin pemenuhan trivarga itu demi tercapainya tujuan hidup manusia Hindu (moksa).
Terdapat tujuh unsur penting didalam negara berkaitan dengan kedudukan Rajarsi dan wilayah negara, yaitu : swamina(kepala pemerintahan; rajarsi), kosha (pengelola kekayaan),  amatya (birokrasi pemerintahan), janapada(penguasa wilayah), durgha(benteng pertahanan), denda (bala) (petugas keamanan; tentara dan kepolisian), dan mitra (sekutu). Ketujuh unsur tersebut merupakan satu kesatuan yang utuh dalam badan-badan politik. Pemisahannya satu sama lainnya akan menyebabkan ketimpangan makna kesatuan negara sebagai institusi holistik.
Tujuh instrumen pengelolaan pemerintahan dalam dandaniti dharma disebut saptangga (tujuh badan). Yang esensial dari suatu negara ialah teritorial, penduduk, kesatuan, dan organisasi negara.

Ketujuh instrumen tersebut berperan sebagai berikut :
1. Svamina (kepala pemerintahan; rajarsi) berperan sebagai pemersatu keutuhan instrumen instrumen secara keseluruhan; sebagai kepala pemerintahan, keseluruhan instrumen yang lain tunduk pada perintah svamina yang diidentifikasi sebagai rajarsi;
2.Kosha(pengelola kekayaan) , bertanggung jawab terhadap kekayaan negara, menggali potensi pendapatan negara di dalam negeri maupun ke luar negeri.
3.Amatya (birokrasi pemerintahan) berperan sebagai pengelola tata birokrasi pemerintahan yang diperlukan untuk pengembangan kemajuan negara ,namun juga melaksanakan diplomasi untuk menjaga hubungan harmonis dengan negara lainnya. Atau juga melakukan eskavasi setelah terjadinya penaklukan daerah lainnya oleh pemerintah.
4.Janapada berperan untuk menyatukan wilayah. bertugas memilah-milah wilayah dalam bagian bagian yang jelas. Negara bebas dari wilayah berlumpur, berbukit karang dan mengadung garam. Menetapkan batas wilayah dengan musuh. Selain itu menetapkan wilayah pertanian (kamasila karshkah) , tempat tinggal orang -orang berhati suci dan berbakti (bhahta suchi manushya).
5.Durgha (benteng pertahanan), bertugas menjaga keutuhan wilayah dari serangan musuh bila ada. Selain itu juga melakukan serangan serangan bila diperlukan terhadap musuh dalam penaklukan wilayah.
6.Denda (bala) (petugas keamanan: tentara dan kepolisian), bertugas untuk menjaga keamanan wilayah dari gangguan keamanan dari dalam (internal) maupun dari luar (eksternal). Dalam hal agresi yang dilakukan oleh pemerintah, denda (bala) ini juga sebagai garda terdepan untuk mengalahkan musuh dan,
7.Mitra (sekutu), betapapun besarnya sebuah negara, memerlukan pula sekutu yang diperlukan sebagai sahabat, kegiatan ekonomi, dan dalam rangka menyerang musuh yang mengganggu dari luar.



















Sabtu, 02 Januari 2016

Upakara "Ngusaba Tegen" di Kedisan Kintamani

ngusaba tegen kedisan kintamani bangli bali

Ngusaba Tegen di Kedisan, Kintamani Bangli biasanya dilaksanakan setiap tahun sekali. Tepatnya pada pinanggal 2-3 sasih ketiga sesuai Kalender Bali. Prosesi ngusaba tegen dilaksanakan dengan cara berjalan beriringan sambil mengusung banten. Tidak hanya diusung kaum perempuan, kaum laki-laki dalam prosesi ini juga ikut ambil bagian. Kaum laki-laki akan memikul banten dengan cara ditegen, sementara kaum perempuan dalam prosesi ini mengusung banten. Tidak hanya diusung kaum perempuan, kaum laki-laki dalam proses ini juga ikut ambil bagian. Kaum laki-laki akan memikul banten dengan cara ditegen, sementara kaum perempuan dalam prosesi ini mengusung banten gebogan dengan cara disuun. Mereka berangkat dari desa menuju tempat prosesi upacara ngusaba tegen, yakni di Pura Dalem Praja Pati setempat.

Ngusaba tegen merupakan suatu bentuk upacara ritual yang dilaksanakan oleh masyarakat di beberapa daerah.Upacara ngusaba biasanya dilakukan untuk memohon keselamatan dan kemakmuran. Di Bali ada banyak jenis ngusaba yang dikenal masyarakat. Salah satunya ngusaba tegen atau ngusaba tagtag yang dilaksanakan masyarakat di Desa Kedisan, Kintamani. Sesuai dengan namanya, sarana sesajen yang digunakan dalam ngusaba tegen berupa hasil pertanian dari masyarakat seperti sayur-sayuran, buah-buahan, ikan dan lainya dibawa dengan cara ditegen (dipikul). Sementara disebut juga Ngusabha Tatag karena saat nunas tirta mesti dilakukan dengan cara menaiki tangga atau yang dalam bahasa bali disebut tatag.

menurut warga , dalam ngusaba tegen sarana banten berupa ikan atau jajan yang dipergunakan tidak boleh digoreng. jajan atau ikan yang dipergunakan sarana banten harus dikukus, direbus, atau dibakar. " Sarananya sama sekali tidak boleh menggunakan gorengan. Harus direbus, dikukus maupun dibakar, " Tegasnya, jika pantangan itu dilanggar diyakini akan bisa mendatangkan marabahaya bagi warga.Tradisi unik lainnya untuk mengetahui jumlah kepala keluarga yang ada di Kedisan, di saat yang bersamaan masing-masing kepala keluarga juga diwajibkan menghaturkan nasi. Nasi yang dihaturkan jumlahnya ditakar menggunakan tempurung batok kelapa. Setelah semua nasi terkumpul, masyarakat akan menghaturkannya sebagai bebantenan lalu dilanjutkan dengan melaksanakan pepranian. Semua masyarakat wajib menikmati nasi tersebut secara bersama-sama dengan tujuan untuk menumbuhkan dan mempererat rasa kekeluargaan warga. 

Selain mengumpulkan nasi sensus penduduk secara tradisi juga menggunakan sarana "uang kepeng" untuk mendapatkan informasi tentang jumlah anggota keluarga dari sebuah populasi masyarakat. Pelaksanaan cacah jiwa di Kedisan dilakukan serangkaian prosesi ngusaba Tegen dilaksanakan. Dalam cacah jiwa ini, masing-masing kepala keluarga diminta mengumpulkan uang kepeng akan mewakili satu jiwa. Nantinya setelah semua warga menyetorkan jumlah uang kepeng sebanyak anggota keluarganya,uang kepeng yang terkumpul akan ditanam di halaman pura setempat. Maksud dari penanaman uang ini adalah untuk menyampaikan kepada Ida Batara yang beristana di Pura Dalem setempat mengenai jumlah keseluruhan masyarakat Desa Kedisan. Menurutnya, data yang didapat dari pelaksanaan cacah jiwa di Kedisan biasanya lebih riil dari data sensus pada umumnya.


Minggu, 27 Desember 2015

Mecakcakan di Sambirenteng, Tejakula, Buleleng menjaga Keseimbangan Alam

Bali mecakcakan ritual

Ritual mecakcakan ini merupakan pelaksanaan pecaruan yang digelar oleh seluruh krama desa. Pecaruan dimulai dari areal Pura Bale Agung kemudian ke perempatan di pusat desa dan ke batas-batas desa. Sesuai dresta (Kebiasaan) di desa, prosesi ritual diawali dengan  kegiatan sabung ayam (tabuh rah/ tajen). Masing masing warga wajib mengeluarkan satu ekor ayam aduan untuk diadu. Sabung ayam ini dipusatkan di halamaman Pura Bale Agung. , penonton atau pemilik ayan aduan tidak diizinkan untuk memasang uang taruhan seperti pada arena tajen. Ayam aduan yang kalah (cundang daging ayam) ini dikumpulkan. Begitu banyaknya ayam aduan milik warga, tajen pun dilakukan hingga bisa dua hari lamanya. Ayam aduan yang kalah yang disebut dengan daging cundang dikumpulkan menjadi satu kemudian dagingnya diolah menjadi menu makan bersama. Kegiatan ritual mecakcakan biasanya melibatkan sekitar 130 ekor ayam aduan yang nantinya cundangnya diolah bisa untuk lawar, pepes , dan kuah yang nantinya disuguhkan dalam "Mecakcakan". 
Secara Pasti tidak diketahui tahun berapa awal mulanya ritual mecakcakan ini, warga sudah mendapatkan warisan dari pendahulunya. Dari cerita pendahulunya itu, mecakcakan ini adalah upacara pecaruan yang digelar setiap tilem sasih kepitu yang bertepatan dengan hari Siwaratri, Pecaruan ini secara niskala untuk memohon kerahuyuan dan kedamaian desa. Sedangkan rangkaian pecaruan dengan megibung itu yang diikuti oleh seluruh warga ini sebagai ungkapan syukur dan menjaga rasa persatuan dan kesatuan di antara warga desa tua muda, dan anak-anak termasuk tidak membedakan antara kaya atau miskin. Dan pada intinya mecakcakan ini sebagai wujud menjalin rasa persatuan dan kesatuan sesama warga baik kaya miskin, tua muda, atau anak anak.Ada juga warga yang menyebutkan , sejarah digelarnya ritual ini karena pada zaman dahulu banyak warga yang mengalami wabah penyakit dan situasi di desa selalu dilanda permasalahan. Atas kondisi itu, pendahulunya kemudian memohon petunjuk secara niskala (nunasang) kepada Ida Sesuhunan yang disungsung oleh warga. Saat itu warga diminta melakukan nyakcakin atau melakukan pecaruan. Sarana Pecaruan ini pun harus dari ayam aduan yang kalah dalam arena sabung ayam yang dipusatkan di Pura Bale Agung. Selain itu , setiap warga wajib menyerahkan ayam aduan untuk diadu dan kalau tidak punya atau tidak bisa mengadu ayam , maka warga bisa mengganti dengan uang tunai yang nilainya berkisar Rp. 25.000,- .
Warga Sambirenteng, kecamatan Tejakula, akan mempersiapkan sarana untuk megibung setelah semuanya siap, pihak prajuru desa memukul kentongan sebagai tanda dimulainya makan bersama. Uniknya , suasana yang semula riuh, saat kentongan dipukul, tiba-tiba berubah menjadi tenang. Sementara warga dan tamu undangan tampak asyik menyantap makanan, lawar , sayur kuah, pepes dan daging di atas kelakat beralaskan daun pisang.



Sabtu, 19 Desember 2015

Si Gangsing yang Tetap Lestari di Tamblingan Bali

Bali Gangsing

Permainan Gansing sejatinya tergolong permainan rakyat di daerah agraris seperti di Catur Desa Dalem Adat Tamblingan. Permainan ini tidak diketahui dengan pasti siapa dan sejak kapan diciptakan. Namun hingga kini permainan gangsing tetap dilakukan oleh penggemar gangsing seperti di Desa Munduk, Uma Jero, Gesing, dan Gobleg. "Kalau ditanya sebagian warga tidak tahu , permainan ini sudah ada sejak lama dan kami sendiri sudah mengetahui ada permainan seperti ini kata mereka"

Diawali dengan putaran gangsing yang dilempar pemiliknya. Kemudian gangsing lawan dilemparkan ke gangsing tersebut dengan putaran yang tak kalah kencangnya. Gangsing yang lebih lama berputarlah yang dinyatakan keluar sebagai pemenang. Suasana gembira pun tampak menghiasi raut wajah pemenang. Demikian suasana permainan gangsing tersebar di sejumlah desa di Buleleng. Salah satunya di Catur Desa Adat Tamblingan.Di Desa Tersebut , gangsing yang merupakan salah satu permainan tradisional, hingga kini keberadaannya tetap dilestarikan, Permainan ini menjadi aset seni tradisional yang tetap dijaga kelestariannya.

Setiap akan digelar lomba gangsing, pihak penyelenggara biasanya memusatkan lomba pada arena (sebuah arena). Arena ini biasanya berukuran 10x10 meter. Di dalam area itu dibatasi lagi dengan empat buah kotak persegi dengan ukuran 4 x 4 meter, yang ditandai dengan kapur putih.Perlombaan biasanya diikuti oleh kelompok atau penggemar gangsing dari desa Munduk, Gobleg, Uma Jero dan Gesing. Setiap Kelompok pemain menyiapkan gangsing dengan ukuran besar rata-rata setiap gangsing yang akan diadu memiliki diameter hingga 15 centimeter dengan berat sekitar 1,5 kilogram.

Permainan Gangsing di Catur Desa Adat Tamblingan, mengalami perkembangan dari waktu ke waktu, dapat dicontohkan , jika dulunya hanya memanfaatkan kayu dari pohon jeruk dan pohon limo warga kini memanfaatkan pohon apa saja untuk dijadikan bahan membuat gangsing. Bahkan , jika dulunya warga hanya memanfaatkan bahan gangsing dari kayu yang berukuran besar, namun kini warga menggunakan dari bahan kayu ukuran apa saja. Walaupun ukuran kayuna lebih kecil, warga bisa memanfaatkan lem kayu untuk merekatkan kayuna. Permainan gansing di Catur Desa Adat Dalem Tamblingan memiliki perbedaan dengan gansing di daerah lain. Biasanya warga menggunakan gansing dengan diameter kecil hanya sekitar lima centimeter, namun di catur desa , minimal diameter gansingnya 10 centimeter." Perkembangan sangat pesat dan terutama kayu yang dijadikan untuk gangsing ini mulai digunakan kayu jenis apa saja. Satu gangsing itu maksimal beratnya 1,6 kilogram dan harga jualnya Rp.250.000 satu buah" .

Setiap lomba gangsing suasananya cukup seru karena masing-masing kelompok ini membawa pendukungnya masing-masing. Setiap pemain memukulkan gansing ke tanah, sorak-sorai pendukung membuat suasana kompetisi sangat terasa. Bahkan, ada kepercayaan di antara empat desa itu ketika akan mengikuti lomba persiapan pembuatan gansing harus mencari hari baik. Sampai kini, warga Catur Desa Adat Dalem Tamblingan masih terus melestarikan permainan gangsing. Bahkan, jika sedang memasuki musim, permainan berlangsung selama tiga tahun penuh setiap minggunya. Namun jika warga sudah jenuh, permainan ini bisa tidak dilaksanakan hingga setahun lamanya. Bukan hanya sekedar menggelar perlombaan, namun permainan gangsing ini mulai menjadi pemikat wisatawan asing yang berkunjung ke Buleleng.

Pementasan permainan gansing terutama di Desa Munduk sedikit mengalami hambatan. Pihak desa sampai saat ini masih berusaha untuk membangun arena untuk tempat perlombaan gangsing. Jika arena ini sudah dibangun, pertandingan pun akan digelar lebih sering dan bisa memberikan kesempatan lebih banyak untuk wisatawan mancanegara menikmati atau bahkan mencoba memainkan gangsing.

Selasa, 03 Maret 2015

KAYU BERTUAH (KEGUNAAN DAN TUAH GAIB YANG DIMILIKINYA)

bambu kuning kayu bertuah

Dikalangan masyarakat kita, terutama yang ada di Pulau Jawa, Bali dan Lombok, ada yang mempunyai keyakinan bahwa untuk beberapa jenis kayu tertentu ada yang memiliki daya gaib dan khasiat tertentu. Tuah kayu tersebut bisa saja karena berasal dari pohon atau kayu bekas tempat keramat atau yang dikeramatkan seperti makam leluhur, para wali atau karena langka, susah mendapatkannya atau bisa juga karena memiliki sifat khusus yang tidak dimiliki kayu lain.

Derajat tuah kayu tergantung dari tempat tumbuh, lingkungan dan tata cara pengambilannya yang kadangkala memerlukan sesajian. Selain itu gambar yang ada pada kayu karena proses alam atau pembusukan atau penyakit pohon kadangkala diyakini memiliki pengaruh gaib juga, contohnya Pelet Kendhit pada warangka keris dari Kayu Timaha dipercaya memiliki daya mengikat tamu hingga mereka tidak meninggalkan tempat hajatan sebelum acara selesai. Menurut pengamatan kepercayaan ini dipercaya juga oleh suku bangsa lain bukan hanya bangsa kita saja.

beberapa jenis kayu yang dianggap bertuah antara lain :

A. Asam Jawa/ Celagi / Tangkal Asem.
Pohon Asam sangat populer di Indonesia dengan tinggi mencapai 30m dan diameter mencapai  60-70cm. Daun dan buah banyak digunakan untuk obat . Asam kuwak adalah buah asam yang telah dibersihkan dari bijinya dan seratnya kemudian dikukus sekitar 10 menit dan diberi sedikit garam dibentuk seperti bola dan dijemur dibawah sinar matahari. Asam kawak ini digunakan untuk obat macam-macam, diantaranya untuk obat sakit tenggorokan, bijinya disebut Klungsu yang diyakini dapat mengusir roh jahat, khususnya dari dari Kerajaan Kidul.Biji Asam yang hitam legam sebanyak 3-9 biji jika ditaruh dalam lampu mobil/motor dipercaya dapat menghindari kecelakaan lalu lintar yang diakibatkan oleh mahluk halus. Bagian hitam (kambium) dari pohon asam dinamakan Galih Asam, bertuah untuk keselamatan , menolak jin jahat dan anti tenung . Jika dipukulkan pada seseorang yang mempunyai daya magic hitam maka biasanya akan punah kesaktiannya. Galih Asam hanya baik dipakai oleh pemimpin berhati "Satria Pandita" , kayu ini juga bagus Warangka Keris.

B.Awar-Awar , Dausalo, Bar-Abar, Sirih Popar (Ficus Septica Burn).
Perdu yang banyak tumbuh di tempat agak basah ini hampir tumbuh diseluruh Nusantara, dari akar sampai daunnya mempunyai kegunaan. Akarnya ditumbuk dengan Adas Pulowaras dan airnya diperas dapat digunakan untuk mengobati keracunan ikan, gadung (Dioscorea hispida dennst) dan kepiting. Jika  ditumbuk dengan segenggam akar alang alang dan airnya diperas merupakan obat muntah yang sangat manjur.
Daun awar awar sering digunakan untuk menolak setan. Jaman dulu daunnya banyak dimanfaatkan untuk membuat tikee, yaitu daun awar -awar diiris halus kemudian dicampur candu. Dalam bentuk bulatan kecil ini tikee dibakar didalam  alat penghidap madat khusus yang dinamakan "bedhutan".Seringkali pohon awar-awar yang sudah tua bagian terasnya memperlihatkan gambar seperti pelet timaha, bagian ini banyak dicari pecinta keris untuk warangka karena diyakini kayu ini  dapat meredam keris/tombak yang panas serta menjauhkan dari jin jahat dan black magic. Yang Perlu diingat kayu ini sangat lunak.

C. Bambu Buntet, Bambu Pethuk

Bambu buntet adalah bambu yang buluhnya tidak kosong. Dipercaya tongkat atau potongan bambu ini bertuah menghalau pengaruh roh jahat dari rumah.Bambu Pethuk adalah bambu yang kedua ruasnya saling bertemu . Dipercaya siapa saja yang membawa potongan bambu ini akan kesampaian maksudnya , tidak mendapat gangguan dari siapa saja.
Ada lagi yang disebut Bambu Carang Gantung adalah bambu yang tumbuh dari rebung dan keluar sebagai pohon bambu kecil kecil ,diyakini anti jin jahat dan santet,banyak ditaruh di atas pintu masuk rumah dan jika dipukulkan pada ular akan mati seketika, juga dipercaya bertuah menghindari wabah penyakit menular dan ilmu hitam yang hendak mengganggu pemiliknya.

D. Boga (Ficus Toxicaria Linn?)

Kayu ini menyerupai Kayu Kebak (Fixus Alba Reinw), warnanya putih dan diyakini  berkhasiat menglariskan dagangan. Caranya : taruh sepotong kayu ini dalam almari/etalase barag yang dijual , atau dapat juga disimpan dalam peti uang jika ditaruh didalam rumah dipercaya pemiliknya tidak pernah kekurangan sandang pangan.

E. Bambu Apus Pringgolayan, Wulung & Ori

Bambu Apus (Gigantochloa Apus Kurz) yang tumbuh dibelakang makam Pangeran Pringgoloyo dkampung Pringgalayan, Kotagede, Yogyakarta sejak jaman dulu dipercaya memiliki tuah membuat pekarangan menjadi angker, karena itu sering digunakan untuk mengusir penyewa yang bandel, tidak mau pindah. Biasanya sepotong bambu apus ditanam atau ditaruh dekat pintu rumah, tetapi setelah tujuannya tercapai segera dikembalikan ke Pringgolayan. Menurut juru kunci makam, semua bambu apus di Pringgolayan mempunyai sifat demikian, tetapi sifat baiknya juga ada termasuk jimat penglaris dagang, tumbal keselamatan, menolak jin jahat. Semua tergantung dari permohonannya.

Bambu wulung (Gigantochloa verticillata Munru) dan bambu Ori (Bambusa Bambos Miq) juga dipercaya memiliki tuah menolak setan. Untuk keperluan ini, ambil sepotong buluh bambu yang satu ruasnya tertutup kemudian taruh disisi pintu masuk dan isi buluh bambu itu dengan air cucian beras, potong dlingo bangle, garam dan rumput alang-alang. Setiap kali, misal setiap minggu, isi dengan air cucian beras, sarana ini selain menolak jin jahat juga menolak tuju, tenung dan santet.

Cara lain, ambil bambu ini dalam bentuk tusuk sate (diruncingkan). Masing-masing disudut perkarangan atau rumah tusukan bambu ini kedalam tanah. Taburi garam dan irisan dlingo bangle disekitar tusukan sate ini.

F. Lingsar (Pterocarpus Sp ?)

Pohonnya tinggi besar, tumbuh ditempat kramat Lingga Manik, barat daya desa Kayangan, Kulonprogo, sebelah utara Samigaluh. Dipercaya bisa menolak jin jahat dan memperlancar permohonan yang bersifat kesucian. Kayu Lingsar sepintas seperti Kayu Sengon (Albizzia falcate), bersifat mudah retak karena penggantian cuaca.

G. Klumpit, Klumprit (Terminalia Edulis Blanco ?)

Pohonnya tinggi besar, banyak terdapat dihutan jati, namun kini hampir punah digunakan untuk bahan bangunan yang tidak menuntuk keawetan. Salah satu pohon Klumpit yang masih alami terdapat di Goa Ngrancang Kencono, 7 km barat daya kecamatan Playen termasuk kawasan desa Manggoran Kidul.

Kayu ini dipercaya bertuah memudahkan permohonan yang bersifat duniawi.

H. Wergu (Rhapis Flabelliformis l’Herit)

Palma kipas atau Wergu biasanya tumbuh dalam rumpun yang padat.

Batang berbuku-buku lurus keatas dengan daun daun seperti kipas. Pohon ini berasal dari China, Vietnam, Laos dan Kamboja. Biasanya tumbuh liar atau sebagai tanaman pagar.

Batang yang berat biasanya berasal dari yang berumur 20 th lebih, dijaman dulu kayunya banyak dieksport ke Hongkong dan China. Nama dagangnya Cannes de laurier atau jones du Tonkin. Kualitasnya dibedakan : (1) diameter lebih dari 20 mm, (2) diameter 13-20 mm, (3) diameter 8 – 13 mm. Semua kualitas ini mempunyai panjang 125 mm.

Kayu Wergu dipercaya bertuah menjauhkan ular dan binatang berbisa, selain itu juga memiliki daya menambah kekuatan bagi pemakainya.

I. Songgo Langit (Ochrosia oppositifolia K.Schum & Tridax procumbens Linn.)

Kayu Songgo Langit yang dianggap bertuah adalah kayu Ochrosia oppositifolia K.Schum. yang sudah amat langka, tingginya bisa mencapai 13 – 14 m dengan diameter 30 sm, biasanya tumbuh didaerah pantai atau tepi pantai. Akarnya keras, dari luar tampak kuning tetapi dalamnya tampak kuning pucat. Kayunya berbau untuk obat dan biasanya digunakan untuk obat terutama sakit perut, kejang perut dan rasa tidak enak setelah makan ikan atau udang. Sementara ada yang beranggapan kayu Songgo langit yang berkhasiat ghaib adalah jenis perdu Tridax procumbens Linn. Biasa tumbuh dikarang karang pegunungan kapur. Pohon ini banyak bercabang dan akar batangnya kuat. Berasal dari Amerika Tengah. Tuahnya menolak niat jahat dari orang atau mahluk halus.

J. Pule, Pulai (Alstonia Scholaris R. Br)

Pohon yang bisa mencapai tinggi 49 m, terdapat diseluruh nusantara, yang baik biasanya tumbuh dibawah 900 m d.p.l dan didekat air. Ada 2 macam varietas, yang bertangkai dan tulang daun berwarna hijau dan satunya berwarna ungu. Keduanya memiliki kegunaan sama.

Kayu Pule lunak dan berwarna kuning keputihan, ada jenis kayu pule yang keras, tetapi umumnya lunak. Dalam dunia pengobatan dikenal sebagai obat demam, malaria, penyakit gula darah dan kurang nafsu makan, rasanya pahit seperti Bratawali. Getah pohon Pule sering digunakan untuk mematangkan abses (bengkak) di kulit.

Banyak yang menganggap Pule bertuah untuk menolak unsur jahat dalam rumah atau pekarangan, kadang digunakan untuk mengobati kesurupan, untuk ini ambil cabang yang masih ada daunnya dan cabang pohon awar-awar serta segenggam tumbuhan alang-alang. Cambukanlah pelan-pelan punggung orang yang sedang kemasukan roh jahat itu. Biasanya dia akan segera sadar.

K. Rumput Fatimah (Calligonum Sp)

Rumput fatimah banyak diambil kaum muslim dari Tanah Suci Mekah dipercaya memiliki tuah memudahkan menagih hutang, permohonan pekerjaan, melunakan hati orang dan sebagainya. Ada juga kegunaan lain untuk memperlancar persalinan, caranya : masukan rumput itu kedalam air, biasanya akarnya mengembang, bacalah Al-Fatihah atau Al-Ikhlas sebanyak 100 x selama merendam itu, minumkan segelas ke ibu yang bersangkutan sambil memohon petunjuk Allah.

Rumput ini juga dapat mengobati kanker, stroke ringan dan tekanan darah tinggi, hanya disini digunakan air panas (thermos), bacaannya Al-Fatihah dan Ayat Kursi masin masing minimal 200 x sesudah itu mohon penyembuhan pada Allah dan minumkan satu gelas 3 x sehari sampai sembuh. Oleskan air rendamannya kepada sisakit.

L. Minging

Sejak jaman dulu pohon ini diyakini membuat ular mabuk, disebut juga pohon ular.

Sering disimpan sebagai penghalau ular atau dibuat tongkat kalau masuk hutan, warnanya coklat kehitaman dan agak berat.

M. Cendana (Santalum Album L.)

Aslinya berwarna kuning agak kemerahan, berbau wangi, kayu ini diyakini bertuah didekati arwah leluhur, jangan membawa pusaka yang berwarangka Cendana bilamana menengok orang sakit karena dipercaya dapat mempercepat ajalnya. Tosan aji yang diberi warangka Cendana akan berbau harum dan lebih awet.

N. Drini, Sentigi (Pemphis Acidula Forst)

Kayu Drini dulu banyak dijumpai dipantai selatan Jawa khususnya dipantai Krakal sebelah timur Baron, Gunung Kidul. Menurut beberapa orang, kayu ini juga ditemukan didaerah pantai lain. Karena banyak dicarai maka kayu ini terancam punah karena diyakini bertuah untuk keselamatan, anti black magic, anti gigitan ular dan dijauhi ular. Selain itu rendaman kayu dalam air juga berkhasiat mengobati penyakit perut. Kayu yang kering akan berbau harum bila digosok dengan ujung jari. Jenis Drini dari Pulau Kangean oleh penduduk setempat dinamakan SETIGI, CANTINGGI atau MENTIGI, kayu ini juga banyak dicari untuk pengobatan, karena langka maka harganya sangat mahal, biasanya pohon Drini tumbuh ditanah kapur yang banyak mendapat angin laut atau sering terendam air laut.

O. Dewadaru

Kayu amat langka ini dulu banyak ditemukan di pulau Karimunjawa sebelah utara Jepara, diyakini bertuah menolak hewan buas dan ular, menyembuhkan gigitan ular berbisa dan menjaga keselamatan. Kayu ini kurang baik dibawa dalam perjalanan berperahu karena sifatnya mendatangkan angin taufan.

Ada 2 macam kayu Dewandaru, yang dipercaya asli tumbuh didesa Nyamplung, konon jelmaan dari tongkat yang ditinggalkan Sunan Kudus, seorang wali Kerajaan Demak. Sedangkan Kayu Dewandaru dari Gunung Kawi, walau jenisnya lain dengan yang ada di Karimunjawa tetapi dipercaya berkhasiat sama.

P. Kayu Itam, Kayu Arang, Kayu Ebony (Diospyros spp)

Kayu berwarna hitam atau kelabu berserat serat hitam. Kayu ini, khususnya yang hitam seluruhnya, bertuah menangkal roh jahat dan menciptakan suasana ketentraman. Ruang tamu yang diberi hiasan kayu ebony akan terasa teduh dan damai sehingga kerasan tinggal diruang tersebut.




 

Arsip dan Catatan Pribadi Copyright © 2011 -- Template created by O Pregador -- Powered by Blogger